24 Desember 2008

Mudzakirat Syaikhut Tarbiyah Rahmat Abdullah
Rabu, 04 April 07

Jadilah kalian orang-orang yang …
atsbatuhum mauqiifan ...yang paling kokoh atau tsabat sikapnya
arhabuhum shadran ...yang paling lapang dadanya
a’maquhum fikran ... yang paling dalam pemikirannya
ausa’uhum nazharan ... yang paling luas cara pandangnya
ansyatuhum ‘amalan ... yang paling rajin amal-amalnya
aslabuhum tanzhiman ... yang paling solid penataan organisasinya
aktsaruhum naf’an ... yang paling banyak manfaatnya



1. Atsbatuhum mauqiifan (tsabat sikapnya)
Tsabat adalah nafas rijalul haq sepanjang zaman. Ia adalah nafas Al Khalil Ibrahim as yang selalu sehat berenergi bahkan ketika menghadapi gunungan kayu yang akan melahapnya, Bilal yang tegar ditindih batu, Sumayyah martir syahidah muslimah, dan sahabat yang lain.

”Orang-orang yang tsabat harus bersabar atas anggapan bahwa perjuangan mereka dibayar, cita-cita mereka disetir, dan tujuan mereka dunia, sehingga semua tak ada yang tabu. Sogok, suap, kolusi, penyalahgunaan kekuasaan, fitnah, pemutarbalikan fitnah mereka halalkan, tak peduli bendera apapun yang mereka kibarkan: demokrasi, kekyaian ataupun HAM. .. Maka diperlukan ketsabatan untuk sampai pada saatnya masyarakat memahami kiprah da’i yang sesungguhnya, jauh dari prasangka mereka yang selama ini terbangun oleh kerusakan perilaku da’wah oleh sebagian kalangan.”(Untukmu Kader Dakwah, Rahmat Abdullah)

Tsabat artinya memiliki kekokohan sikap dan keteguhan prinsip, amanah, dan profesional dalam segala hal. Tidak menggadaikan prinsip dengan materi, tidak menukar keyakinan dengan jabatan. Bekerjalah dan berkaryalah dengan keyakinan sikap dan prinsip untuk membuktikan janji, meneguhkan komitmen untuk meraih taqwa.

Yakinlah dengan jaminan Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushshilat 41:30)

2. Arhabuhum shadran (lapang dadanya)
Sikap paling menonjol dari Nabi saw adalah lapang dada, selalu ridha, optimis, berpikir positif, tidak mempersulit diri dan orang lain, memudahkan, menggembirakan, menebar kebaikan dan senyuman. Teladanilah Rasulullah, untuk mendidik diri agar lebih rahmat, penuh kelembutan dan berlimpah kasih sayang terhadap siapa saja. Itulah keshalihan sosial yang kekuatannya luar biasa. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka...” (QS Al Imran 3:159)

3. A’maquhum fikran (dalam pemikirannya)

4. Ausa’uhum nazharan (luas cara pandangnya)
Point ke tiga dan ke empat ini digabungkan dalam satu frase: spesialis dan berwawasan global. Dengan spesialisasi, diharapkan fokus pada keahlian atau keterampilan tertentu, sehingga memiliki daya saing yang tinggi. Dan dengan berwawasan global, diharapkan tidak berpikiran sempit dan ‘terkotak-kotak’ pada bidang tertentu, sehingga melupakan kepaduan pemahaman terhadap ilmu dan pengembangan dunia kontemporer.

Hal ini dicontohkan oleh pribadi para ilmuwan Islam masa lalu, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Biruni, dan lain-lain. Mereka adalah spesialis pada bidang-bidang tertentu, tetapi memiliki wawasan global terhadap perkembangan dunia di masanya. ”Belajarlah menggabungkan antara pengetahuan yang komprehensif, bersifat lintas disiplin dan generalis dengan penguasaan yang tuntas terhadap satu bidang ilmu sebagai spesialisasinya. Dengan begitu, sebagai seorang dai, Anda senantiasa berbicara dengan isi yang luas dan dalam, integral dan tajam, berbobot dan terasa penuh.” (Menikmati Demokrasi, Anis Matta)

5. Ansyatuhum ‘amalan (rajin amal-amalnya)
“Sesungguhnya amal yang dicintai Allah adakah yang berkelanjutan, meski itu sedikit.” Adalah bukan perkara mudah untuk istiqomah dalam amal ibadah, tapi mungkin dan bisa, asalkan kita membiasakan. At first we make habbit, at last habbit make you. Keseriusan, ketekunan dan kerja keras itulah yang mengantarkan seseorang pada derajat mulia, seperti ketekunan Bilal bin Rabbah yang menjaga dengan istiqomah kondisi suci dengan wudhu dan sholat 2 rakaat setelahnya yang berbuah surga.

6. Aslabuhum tanzhiman (solid penataan organisasinya)
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS Ash Shaff 61:4)

”Kita hidup dalam sebuah zaman yang oleh ahli-ahlinya dicirikan sebagai masyarakat jaringan, masyarakat organisasi. Semua aktivitas manusia dilakukan di dalam dan melalui organisasi; pemerintahan, politik, militer, bisnis, kegiatan sosial kemanusiaan, rumah tangga, hiburan, dan lain-lain. Itu merupakan kata kunci yang menjelaskan, mengapa masyarakat modern menjadi sangat efektif, efisien, dan produktif.

Masyarakat modern bekerja dengan kesadaran bahwa keterbatasan-keterbatasan yang ada pada setiap individu sesungguhnya dapat dihilangkan dengan mengisi keterbatasan mereka itu dengan kekuatan-kekuatan yang ada pada individu-individu yang lain.” (Dari Gerakan ke Negara, Anis Matta)

Bagaimanapun, kata Imam Ali bin Abi Thalib r.a “Kebenaran yang tak terorganisir akan terkalahkan oleh kebatilan yang terorganisir”. Musuh-musuh kita mengelola dan mengorganisasi pekerjaan-pekerjaan mereka dengan rapi, sementara kita bekerja sendiri-sendiri, tanpa organisasi, dan kalau ada, biasanya tanpa manajemen. Seorang penumpang bis kalah ’sukses’ dengan ‘jamaah’ penjambret. Copet-copet bisa ’sukses’ karena organisasinya solid, jibakunya luar biasa. Jaringan narkoba ’sukses’ karena ketaatan dan kedisiplinan menjaga ’amanah’ jaringan mereka. Maka bila mereka bisa bersatu dalam dosa dan kejahatan, apatah lagi yang berjuang di jalan Allah, harus lebih rapi dan solid lagi dalam penaatan organisasi.

7. Aktsaruhum naf’an (banyak manfaatnya)
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(HR. Tirmidzi)

Raihlah bahagia dengan berkiprah, ringan membantu sesama dan senang membahagiakan orang. Jadilah pribadi andal layaknya bibit yang baik. Bibit yang baik, kata Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam “Mudzakirat Da’wah wa Ad Da’iyah”, di manapun ia ditanam akan menumbuhkan pohon yang baik pula. Itulah sebaik-baik manusia, shalih linafsihi hingga naafi’un lighairihi.

”Perumpamaan mukmin itu seperti lebah. Ia hinggap di tempat yang baik dan memakan yang baik, tetapi tidak merusak.” (HR. Thabrany)

“Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti sebatang pohon kurma. Apapun yang kamu ambil darinya akan memberikan manfaat kepadamu.” (HR. Ath-Thabrani) Milikilah Allah dengan selalu dekat dengan-Nya. Milikilah Rasulullah dengan mantaati dan meneladaninya. Milikilah syafaat Al Qur’an dengan membaca(tilawah), merenungkan(tadabbur), menghafalkan(tahfidz), mengamalkan dan mendakwahkannya. Miliki dengan memberi.

Wallahu ‘alam bish showab

baca selengkapnya »»

22 Desember 2008

Musyawarah Majelis Syura X:
Sikap politik PKS

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendukung dan berperan aktif dalam usaha memerangi dan memberantas korupsi di Indonesia. Berikut ini adalah enam sikap politik PKS terhadap beberapa kondisi aktual Bangsa.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendukung dan berperan aktif dalam usaha memerangi dan memberantas korupsi di Indonesia. Oleh karena itu PKS memandang posisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tetap diperlukan di Indonesia dan bahkan harus diperkuat peranannya dengan menghadirkan KPK di daerah-daerah disertai dengan penyediaan tenaga-tenaga profesionalyang memiliki integritas tinggi. PKS juga berharap KPK dapat masuk ke dalam masalah-masalah korupsi yang memiliki dampak besar bagi kehidupan bangsa Indonesia, seperti dalam kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan BUMN-BUMN strategis.

Dalam menghadapi krisis global, PKS mengapresiasi kebijakan yang telah diambil Pemerintah dan Bank Indonesia sebagai langkah yang cukup efektif untuk meredam kepanikan. Namun ini harus dijaga keberlanjutannya untuk menghasilkan ekspektasi publik yang positif atas sistem keuangan dan ekonomi Indonesia, karena dampak krisis ini masih akan panjang. Dalam jangka pendek perlu dikembangkan langkah-langkah yang memberikan dukungan kongkrit kepada sektor riil diantaranya: stabilisasi harga, fasilitasi pengembangan pasar ekspor alternatif, menurunkan harga BBM, dll. Dalam jangka panjang untuk menghindari krisis lebih lanjut penting dilakukan perumusan kebijakan ekonomi alternatif yang telah terbukti handal dalam menghadapi gempuran krisis ekonomi nasional 1998 dan krisis global saat ini, seperti yang sudah mulai dirintis oleh Pemerintah RI melalui penerapan UU Perbankan Syariah dan UU Surat Berharga Syariah Nasional (Sukuk).

Dalam spirit menyambut hari Sumpah Pemuda, rasa tanggung jawab dan cinta terhadap masa depan bangsa PKS menuntut segera atas pengesahan RUU Pornografi dalam rangka komitmen melaksanakan Pancasila, UUD 1945, menjaga keutuhan NKRI, meningkatkan kualitas seni budaya dan moralitas bangsa dalam semangat menghormati bhinneka tunggal ika.

Pentingnya mengawasi realisasi pelaksanaan anggaran belanja negara 20% untuk pendidikan nasional agar tidak menjadi lahankorupsi baru yang bertentangan dengan semangat merealisasikan ketentuan UUD itu. KPK dituntut untuk jeli mengawasi hal ini.
Mendesak kepada pihak PT Lapindo Brantas untuk lebih bertanggung jawab terhadap korban-korban kasus lumpur Lapindo, dan mendesak Presiden untuk segera merevisi Keppres tentang perluasan peta daerah terdampak.

Pertimbangan Koalisi:
1. PKS akan memperjuangkan Indonesia Madani yang adil, sejahtera dan bermartabat

2. PKS siap berkoalisi dengan berbagai komponen bangsa yang sejalan dengan platform PKS untuk membangun Indonesia.

3. PKS akan berkoalisi dengan pihak-pihak yang:
a. Reformis dan anti korupsi
b. Sungguh-sungguh berjuang untuk kesejahteraan bangsa
c.Mampu mengelola Pemerintahan dan Negara secara professional

Sidang pleno Majelis Syuro PKS ke-10 menetapkan kandidat pemimpin Nasional dari kader PKS sebagai berikut:

1. DR. H.M. Hidayat Nur Wahid
2. Ir. H. Tifatul Sembiring
3. DR. H. Salim Segaff Al Jufri
4. H.M. Anis Matta Lc.5. Prof. DR. H. Irwan Prayitno
6. H. Suharna Surapranata M.T.
7. DR. H. Sohibul Iman MSc.
8. DR. H. Surahman Hidayat, M.A.

Jakarta, 26 Syawal 1429 H / 26 Oktober 2009
sumber: ( PIP PKS-Malaysia pks-malaysia.org)
baca selengkapnya »»

20 Desember 2008

REKOMENDASI MAJELIS SYURO

A.Soliditas Kader dan Struktur
1. Mewajibkan kader , pejabat struktur, dan tokoh public yang mewakili PKS untuk terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah

2. Mewajibkan semua kader, pejabat struktur dan tokoh public yang mewakili PKS untuk menampilkan keteladanan ; sikapnya (qudwah hasanah), dan menjauhkan berbagai sikap yang dapat merusak nama baik dirinya, nama baik PKS, dan melemahkan soliditas internal.

3. Mendorong semangat amar ma’ruf nahi munkar di kalangan kader, struktur, dan tokoh public yang mewakili PKS, dengan tetap mengedepankan cara yang santun, beradab, procedural, dan sikap lapang dada dalam menerima koreksi dan kritik.

4. Meningkatkan tsiqoh mutabadillah antara kader dan qiyadah di seluruh jenjangnya.

5. Memperluas sosialisasi AD/ART dan platform Partai kepada seluruh kader, pejabat structural, dan tokoh public yang mewakili PKS

6. Melakukan publikasi berbagai bentuk keberhasilan dakwah secara berkala kepada kader, pejabat struktur, dan tokoh public yang mewakili PKS agar tumbuh optimisme dan semangat juang.

7. Melakukan pemetaan persoalan internal PKS secara integral dan menasional, dalam rangka menyelesaikan permasalahan internal secara tuntas.

8. Menegaskan hubungan keorganisasian yang baku sesuai dengan kaidah-kaidah organisasi antara DPP – TPPN di satu sisi, serta SC – OC TPPN di sisi yang lain.

9. Optimalisasi BPK sebagai lembaga yang berwenang melakukan ri’ayah mustamirrah wamutawashilah (maintenance berkelanjutan) terhadap amaliyah tarbawiyah

10. Mengamanatkan kepada MPP untuk menyusun mekanisme jarring aspirasi dan sosialisasi putusan MS kepada seluruh kader, pejabat structural, dan tokoh public yang mewakili PKS

11. DPTP menginformasikan kebijakan strategis yang dibuatnya kepada semua anggota MS

12. Memperjelas system dan mekanisme evaluasi dan monitoring segala bentuk produk yang bersifat dhawabith, dan pedoman yang dikeluarkan oleh lembaga tinggi partai.

13. Mengamanatkan kepada MPP untuk segera menyelesaikan pedoman reward and punishment dalam promosi, proyeksi, dan nominasi

B. Mekanisme dan Penentuan Kebijakan
14. Konsistensi pengambilan keputusan di semua level struktur sesuai dengan AD/ART, pedoman, serta panduan Partai.

15. Menegaskan kembali pentingnya menjaga adab dan sirriyatul mudawalah (kerahsiaan dialog internal) di seluruh rapat resmi partai di luar pernyataan resmi, dan pentingnya memastikan agar rapat resmi partai hanya di hadiri oleh orang-orang yang berhak atau diizinkan di dalam ruang rapat.

16. Melakukan penguatan aspek dokumentasi, rencana, produk dan notulensi rapat serta
sosialisasi dan control pelaksanaannya.

C. Pendanaan
17. Meningkatkan transparansi dan accountability keuangan dan asset Partai dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip amny


18. Melakukan diversifikasi dalam fund rising dan pelibatan kader, pejabat struktur dan tokoh public yang mewakili PKS, dengan mempertimbangkan panduan pencarian dana yang telah dibuat oleh DSP

D. Penanganan Qadhiyah Kader
19. Mewajibkan semua kader, pejabat struktur, dan tokoh public yang mewakili PKS agar meningkatkan pengendalian diri dan terhadap prilaku, tampilan, dan pernyataan yang berpotensi menimbulkan dampak negative bagi soliditas internal.

20. Optimalisasi lembaga tarbawi dan tanzhimi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut individu kader secara adil, transparan dan non diskriminatif.

21. Menguatkan fungsi tarbawi dan da’awi seluruh kader, pejabat struktur dan tokoh public yang mewakili PKS, seiring dengan fungsi mereka dalam pemenangan Pemilu.

E. A’iliyah
22. Membentuk lembaga ta’awun dan takaful yang secara khusus menangani persoalan kader

23. Menganjurkan seluruh kader, pejabat struktur, dan tokoh public yang mewakili PKS untuk meningkatkan sikap kepedulian dan empati terhadap persoalan ma’isyah kesehatan para kader secara khusus, dan masyarakat secara umum.

F. Mutaba’ah Keputusan
24. Memerintahkan kepada struktur agar segera melaksanakan klausul dalam AD/ART yang berkenan dengan “pernyataan di atas materai sebagai kader”
baca selengkapnya »»

16 Desember 2008

Dr. Saad al-Katatny, Ketua Fraksi Ikhwan di Parlemen Mesir
Tak Banyak Manfaatnya Dialog Islam-Barat

Sejauh mana pentingnya dialog antara muslim moderat dengan Barat? Untuk menjawabnya, rasanya cukup menengok pada satu hal; Islam dan Barat hidup dalam dunia yang sama. Ada banyak orang Islam di Barat, dan di antara mereka tidak sedikit pula Muslim yang menjadi tokoh.

Pertemuan antara Islam dan Barat selalu saja penuh dengan konfrontasi. Sejarah bermula di era penjajahan, di mana pergerakan Islam, disokong kekuatan nasional lainnya, melawan Barat yang serakah. Pada periode ini, Islam hanya melihat satu kemungkinan: Barat adalah penjajah. Sedangkan Barat, untuk membenarkan penjajahan mereka, menganggap semua orang Islam adalah kaum barbar dan brutal. Inilah kesan pertama Islam yang diperkenalkan Barat pada masyarakatnya.

Babak kedua konfrontasi Islam dengan Barat adalah ketika berlangsung konflik Arab-Israel. Selama dua abad lamanya kemudian, Islam dan Barat menemukan arah yang baru. Hancurnya Soviet menjadi pemicu negara-negara Islam mulai mencari pelindung kepada Barat, yang dengan serta merta menyambutnya dengan tangan terbuka, terutama AS. Faktanya kemudian, Barat menelikung dengan menghancurkan semua kekuatan politik Islam dengan bantuan pemerintahnya sendiri—satu hal yang kemudian membuat Barat dijuluki “Pengkhianat”. Sampai sekarang, pola ini masih terus berlanjut dan berlangsung.

Pemerintah setempat melakukan hal yang lebih buruk lagi; mereka memberikan persepsi negatif tentang Islam di Barat. Mereka pun menguasai media dan menggelembungkan imej jika Islam adalah teroris, radikal, dan anti-demkorasi. Karena hal ini, Islam menjadi skeptis terhadap AS. Ditambah lagi dukungan AS terhadap Israel yang begitu gencar.

Akibatnya, kedua pihak antara Islam dan Barat melakukan aksi 'sapu-bersih' yang tidak seimbang. Di Barat, semua golongan Islam sama. Ikhwan tidak ada bedanya dengan Al Qaidah. Padahal, selain secara prinsip, organisasi, orientasi, pandangan, dan pola pemikiran pun berbeda. Di sisi lain, Islam pun kesulitan untuk mengenal Barat.

Memang ada perbedaan antara Uni-Eropa dan AS. Tetapi, Islam hanya mengenal AS cenderung lebih ekstrim dalam menilai Islam. Hal ini berdasarkan pada kepentingan jangka pendek di wilayah-wilayah tertentu, terutama mengenai Israel, minyak, dan pengendalian wilayah strategis yang penting. Sedangkan Uni-Eropa lebih tertarik pada isu demokrasi dan hak asasi. Tapi hal ini pun tak kurang buruknya dalam memanipulasi citra Islam. Uni-Eropa juga tidak kalah hebat dalam mendukung Israel.

Dalam hal ini, sangat penting untuk memahami Ikhwan sebagai gerakan yang moderat. Ikhwan selalu membuka dialog terhadap Barat. Tapi selalu saja ada halangan besar terhadap Ikhwan. Sokongan Barat terhadap rejim lokal ddalam alasan utama di balik semua itu. Pemerintahan Barat memilih bungkam terhadap berbagai kejahatan hak asasi yang dilakukan oleh rejim pemerintah. Begitu pula ketika terjadi pengadilan negeri menghukum para pembesar Ikhwan, di antaranya Khairat el Shater. Kemudian, tanpa alas an yang jelas, pemerintah membekukan semua aset yang dipunyai oleh Ikhwan. Mereka juga menangkapi ratusan anggota Ikhwan. Untuk semua itu, kita perlu ingat, Barat tidak melakukan apa-apa.

Pemerintahan Barat, terutama AS, harus mengklarifikasi posisi mereka mengenai demokrasi di Timur Tengah. Sepertinya tidak mungkin jika mereka mengatakan bahwa mereka begitu tulus mendukung demokrasi, sementara mereka masih saja terus memberikan dukungan kepada rejim-rejim setempat dalam melaksanakan tekanan dan ancaman kepada lawn politik mereka. Ini bukan saja merusak masa depan reformasi, tapi juga perdamaian keamanan internasional. Ini lah halangan dakwah terbesar Ikhwan, karena ketika Ikhwan menggulirkan reformasi tanpa kekerasan, isu radikal sudah menghadangnya.

Barat harus menyadari bahwa gerakan demokrasi : “ Satu orang, satu suara ", dalam sebuah pemilihan akan menjadi sangat absurd, jika tidak menghasilkan perubahan di dunia Islam, yang sekarang mereka kuasai. Jika beberapa kawasan mereka kuasai, lalu cukup kuat rakyat mendukung Islam sebagai kekuasaan politik, tentu Barat akan segera menghancurkannya. Sejarah selalu menunjukan bahwa kita selalu saja dihalangi oleh kekuatan Barat, yang menginginkan ditegakkan nilai-nilai dan sistem islam, dan berangsur-angsur dilenyapkan jika gerakan Islam tidak terpilih lagi.

Terakhir, Barat harus juga menyadari bahwa dengan mendukung pemerintah diktator setempat, maka Barat melakukan pengkhianatan. Sementara memang para diktator ini rela untuk bekerja sama dengan pemerintah, karena hanya dengan begitulah mereka bisa tetap eksis. Jadi, ketika kita berbicara dialog anatar Islam dan Barat, maka kita memasuki “area abu-abu”. Kesalahpahaman akan selalu muncul, dan hanya akan mengancam semua orang.
baca selengkapnya »»

13 Desember 2008

Baitu’d Da’wah
Oleh: KH. Rahmat Abdullah (alm)

Suatu malam menjelang fajar, dalam inspeksi rutinnya, khalifah II Umar bin Khatab mendengar dialog menarik antara seorang ibu dengan gadis kencurnya.

“Cepatlah bangun, perah susu kambing kita dan campurkan dengan air sebelum orang bangun dan melihat kerja kita.”
“Bu, saya tak berani, ada yang selalu melihat gerak-gerik kita.”
“Siapa sih sepagi ini mengintai kita?” sang ibu bertanya.
“Bu, Allah tak pernah lepas memperhatikan kita.”


Khalifah segera kembali dengan suatu tekad yang esok akan dilaksanakannya, melamar sang gadis untuk putranya, ‘Ashim bin Umar. Kelak dari pernikahan ini lahir seorang cucu: Umar bin Abdul Azis, khalifah kelima.

Tuan dan Nyonya Da’wah yang saya hormati.
Tentu saja istilah baitu’d da’wah ini tidak dimaksudkan sebagai rumah tempat warganya setiap hari berpidato. Juga bukan keluarga dengan aktifitas belajar mengajar seperti layaknya sebuah sekolah formal. Ia adalah sebuah wahana tempat pendidikan berlangsung secara mandiri dan alami namun bertarget jelas.

Ada kegawatan yang sangat ketika roda keluarga meluncur tanpa kendali. Saat salah seorang anggotanya sadar apa yang sedang terjadi, segalanya mungkin telah terlambat. “Keterlambtan” itu dapat mengambil bentuknya pada ABG yang asing dari nilai-nilai ayah ibunya, atau ayah yang lupa basis keluarganya oleh kesibukkan kerja di luar, atau ibu yang terpuruk dalam rutinitas yang membunuh kreatifitasnya, atau karir yang menggilas peran dan fitrah keibuannya.

Banyak orang merasa telah menjadi suami, istri, atau ayah dan ibu sungguhan, padahal mereka baru menjadi ayah, ibu, suamia atau istri biologis. Sangat kasar kalau diistilahkan menjadi jantan, betina, atau induk dan biang, walaupun dalam banyak hal ternyata ada kesamaan. Kalau hanya memberi makan dan minum kepada anak-anak: kambing, ayam, dan kerbau telah memerankan fungsi tersebut dengan sangat baik. Dan, isu sentral “pewarisan nilai-nilai kehidupan” dalam kehidupan mereka tak ada soal. Buktinya tak satupun anak ayam yang berkelakuan kerbau, atau anak kerbau berkelakuan belut, atau anak kambing berkelakuan serigala. Adalah suatu penyimpangan bahwa anak manusia bertingkah laku babi, serigala, harimau, atau musang.

Tentu saja ini tidak dimaksud mendukung program robotisasi anak yang dipaksa menghafal seluruh program yang dijejalkan bapak ibunya tanpa punya peluang menjadi dirinya sebagai hamba Allah, karena mereka harus menjadi hamba ayah, hamba ibu, dan hamba guru. Ini tidak ada hubungannya dengan program tahfidz atau apresiasi seni Islam yang menjadi bagian dari sungai fitrah tempat air kehidupan mengalir sampai jauh.

Misteri Berkah
Saat ini beberapa keluarga sederhana, dibimbing oleh “intuisi” kebapakan dan keibuan, mendapat berkah dalam mendidik anak-anak mereka. Anak SMU-nya lulus dengan baik, plus hafal 1000 Alfiah ibnu Malik, rujukan utama gramatika Arab (Nahwu). Lumayan mengagumkan, jebolan SMU menjadi rujukan sesame mahasiswa di sebuah Universitas terkemuka di Negara Arab. Tahun-tahun berikutnya sang adik menyusul dengan hak beasiswa ke sebuah universitas unggulan di Eropa. Lainnya bias melakoni dua kuliah yang “pelik”: bahasa Arab di sebuah kolase paling representative sementara siangnya mengambil jurusan Ekonomi. Kemenakannya hafal Al Qur’an 30 juz menjelang akhir semester delapan di institute teknologi paling bergengsi di negeri ini. Kemenakan lainnya lulus akademi militer angkatan darat tanpa kehilangan kesantriannya yang pekat.

Sang bapak jauh dari penguasaan teori ilmu-ilmu pendidikan. Ketika digali hal yang special dari kelakuannya, muncul jawaban yang signifikan: kecintaan keluarga tersebut kepada ulama (dalam arti sesungguhnya) dan keberaniannya amar ma’ruf nahi munkar tanpa harus selalu mengandalkan mimbar tabligh. Mengesankan sekali ucapan Ali Zainal Abidin, cucu Ali bin Abi Thalib, “Barang siapa meninggalkan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, maka anak, istri, dan pembatunya pun akan membangkan kepadanya.”

Ternyata memang, keikhlasan seorang atau keluarga kerap menembus sampai beberapa generasi sesudahnya. Boleh jadi seseorang merasa telah menjadi bagian dari da’wah yang besar dan berkah, tetapi bukan sikap da’i yang dirawatnya. Alih-alih dari membimbing masyarakat dengan fiqh dan akhlak da’iyah, justru sebaliknya, hanya ghibah dan pelecehan yang digencarkannya terhadap masyarakat. Padahal, besar kemungkinan mereka tidak tersentuh da’wah atau tidak mendapatkan komunikasi yang memadai.

Ikhlas, nilai plus yang menembus lintas generasi.
Keikhlasan yang “naïf” Nabi Ibrahim yang rela –demi melaksanakan perintah Allah- meninggalkan istri dan bayinya dilembah yang tak bertanam di dekat rumah Allah yang di hormati (QS. Ibrahim: 37) menghasilkan bukan hanya turunan nasab yang konsisten, tetapi juga turunan fikrah yang militan.

Ummu Sulaim ibu Ana bin Malik yang begitu stabil emosinya dan begitu mendalam keikhlasannya menerima kematian bayinya, mendapat 100 anak dan cucu, semuanya telah hafal Al Qur’an dalam usia sangat dini. Itu hasil hubungan penuh berkah –ditingkahi doa berkah Rasulullah SAW di malam yang sangat beralasan baginya untuk “meratapi” bayinya yang tiada.

Demikian pula penghianatan istri Nabi Luth dan Nabi Nuh –yang karenanya Allah menyebutnya dengan imra-ah (perempuan) bukan zaujah (istrinya)- melahirkan generasi sangat berbeda.

Yang satu generasi sangat rabbani seperti Nabi Ismail as, yang cermin kepribadiannya membersit dalam ungkapan pekat nilai-nilai tauhid: “Ayahanda, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, akan kau temukan daku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. 37:102)

Di seberang lain dengan pongahnya Yam bin Nuh berkata, saat ayahnya mengajak naik bahtera penyelamat, “Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari air bah.” (QS. 11:43).

Di zaman ketika setiap langkah serigala dengan mudah menyerbu masuk ke rumah-rumah yang tak lagi berpagar dan berpintu, siapa yang merasa aman dan mampu melindungi anak-anak fitrah dari terkamannya? Siapa yang tabah melindungi gelas bening dan kertas putih suci itu dari ancaman yang setiap waktu dapat memecah-hancurkan dan mencemari mereka? Siapa yang tak tergetar hatinya melihat cermin bening yang semestinya ia perhatikan betul raut wajahnya disana, seraya merintihkan desakan suara hatinya dalam sujud panjang di keheningan malam:

“Dan Kami telah berpesan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah dan melahirkannya dengan susah. (masa) hamil dan menyapihnya tiga puluh bulan. Sehingga ketika ia mencapai masa kuatnya dan mencapai usia empat puluh tahun ia berkata: Ya Rabbi, ajarkan daku agar dapat mensyukuri nikmat yang Engkau ridhai serta perbaikilah untukku dalam keturunanku. Sesungguhnya akuk bertaubat kepada-Mu, dan aku termasuk kaum yang menyerahkan diri.”
baca selengkapnya »»

12 Desember 2008

Bersama Al Haq dan Ahlul Haq
Oleh: KH. Rahmat Abdullah (alm)

“Selalu bersama Kebenaran, walaupun engkau sendirian.”

Alangkah idealnya pesan ini bagi mereka yang mampu ,memilah egoisme pribadi dan tarikan negative grafitasi in grouping yang sering tampil menjadi kembaran egoisme itu sendiri.


Perasaan ikhlas yang kadang terkacaukan oleh kecenderungan egoisme akan melahirkan khawarij zaman yang dungu dan menafikan kebersamaan, hanya karena kelemahan umat dalam menggapai injazat (karya-karya) dakwah secara serempak, kemas dan tuntas. Seperti egoisme murjiah yang menikmati kelezatan fatalisme dan mengolah menunya untuk disantap dengan lahap oleh para tiran: “Vonis itu nanti di sana, amar ma’ruf nahi munkar tiada guna, dosa jangan disesali dan kebajikan usahlah disyukuri, karena kita Cuma setitik debu yang ditebangkan angina takdir kemana ia mau.”

Putus asa telah membuka lebar-lebar pintu nafsu untuk mendorong masing-masing kelompok untuk berbangga diri. Seandainya saja karya-karya mereka dapat dirakit menjadi kesatuan produk umat, niscaya ia akan menjadi mozaik-mozaik indah dalam lembaran sejarah umat. Alangkah indahny klaim-klaim mereka, kalau amaliahnya tidak mencabik-cabik kebenaran yang tak pernah takut kesendirian dan keterasingan itu.

Di jalan dakwah banyak bertumbangan kader dengan kadar militansi yang nyaris total pada momentum yang sebenarnya masih dapat dikompromikan. Sebaliknya, tak sedikitnya semua itu mencair pada momentum yang seharusnya militansi hadir dengan tegar. Semoga Allah merahmati Imam Syafiie yang salah satu qaidah fiqh unggulannya ialah Alkhuruj Minal Khilaf Mustahab (keluar dri khilafiyah sangat disukai). Tentu saja ini berlaku dalam hal kompromistik. Tak ada tempat bagi mereka yang sengaja memuaskan syahwat menghindari syari’ah atau produk ijtihad yang sangat representative dengan dalih “ini perkara khilafiyah atau itu kan tafsiran subyektif Ibnu Katsir atau sayyid Quthb.” Atau semangat zaman telah menaklukan makna hakiki sabda. Akhirnya segalanya boleh kecuali yang bertentangan dengan nafsu mereka. Untuk menyakin-yakinkan public terkadang mengutip qaidah-qaidah fiqh dan pada saatnya mereka terbentur dengan prinsip: “Tak semua khilaf dating dengan (bobot) yang pantas diterima, kecuali khilaf yang berakar pada nalar (yang benar).”

Seperti orang yang tak mau shalat hanya karena ada beberapa perbedaan teknis yang mereka tak (mau) tahu batas toleransinya. Atau seorang alim yang menjustifikasi pakaian yang membuka aurat, hanya karena ada perbedaan aplikasi, antara perempuan kota yang resik dan kering dengan perempuan sawah yang sehari-hari harus bergelut Lumpur.

Faqih dan Sufi
Pertarungan kedua kubu ini nyaris tk pernah berakhir, kecuali di tangan ulama yang menjadikan kefaqihan dan “kesufian” sebagai pakaian diri sebelum menjadi tarikan grafitasi in grouping. Cukup adil vonis yang dijatuhkan AlimQuraisy bagi perseteruan klasik ini.

Menjadi faqih dan sufi, jangan jadi satu saja.
Kunasehati engkau agar waspada.
Yang ini keras, hatinya tak pernah mengenyam taqwa.
Yang ini jahil, apa dengan jahil bis lurus suatu perkara?

Ketika bidikan menyimpang satu millimeter, apakah peluru yang melesat dari laras juga menyimpang satu milimeter dari sasaran? Sebagian kaum sufi yang memuja dzauq (rasa) sebagai ukuran absolute, kerap melecehkan fuqaha yang bersiteguh pada dhawabith (patokan-patokan) yang terkadang terkesan formalistik. Kelak akan bermunculan kaum pecinta kebenaran yang begitu santun, berbinar hati dan bermagnet besar, dengan kadar penyimpangan fiqh sampai tingkat yang tak bias ditoleransikan. Para fanatikus fiqh yang kering ruhani, kerap jatuh pada fatwa yang sofistik (safsathah) dan anarkis.
Walaupun terdengar naïf, namun nyata ada kebanggaan fatwa: “seseorang yang mengauli istrinya di siang hari bulan ramadhan, dapat membayar qadha’nya hanya sehari. Syaratnya ia harus membatalkan puasanya terlebih dahulu dengan makan atau minum!”

Atau kisah 50 santri yang sangat bangga dengan kealiman mereka seraya melecehkan orang-orang yang beragama dengan jahil yang karenanya menjadi sudah. Mereka duduk membuat lingkaran. Yang pertama mengikrarkan, 3 ½ liter beras di tangannya menjadi zakat fithr yang ia serahkan kepada santri disampingnya. Santri kedua menjadikan zakat yang telah menjadi miliknya itu sebagai zakat bagi santri ketiga dan seterusnya sampai kembali ke muzakki pertama. Dengan cerdas mereka berhasil membayar zakat fithr 3 ½ liter untuk 50 orang!
Semoga ini terobosan “cerdas” 50 orang yang sudah tak punya apa-apa lagi, selain 3 ½ liter pada seseorang di antara mereka.

Diseberang sana tanpa label faqih atau sufi ada seseorang perempuan yang menolak kehadiran mertua, karena suami berpesan jangan menerima kehadiran siapa pun selama ia musafir. Atau ada seorang lelaki yang pergi berbulan-bulan meninggalkan anak dan istri tanpa nafkah, karena alasan perjuangan yang sangat mulia, berdakwah ke segala penjuru mata angin.

Bersama Kebenaran dan Ahlinya
Cinta kebenaran yang memenuhi hati pembelanya mestilah melahirkan kebersamaan dan kecintaan kepada ahlinya. Kekeringan ruhani kerap melanda mereka yang begitu menguasai banyak pengetahuan teoritik bahkan mendakwahkannya, namun hati mereka kosong dari kebersamaan dengan para pembelanya.
Ketentraman hati dengan pengisahan para rasul adalah aksioma Al-Qur’an. “Dan masing-masing kisah para rasul Kami kisahkan kepadamu, hal yang dengannya Kami teguhkan hatimu…” (QS. Hud:120)

Namun mengapa masih juga terjadi keraguan dan kegamangan? Karena si ragu dan si gamang tidak memancangkan gelombang receiver pada gelombang siar yang sama dari pemancar. Hanya ada dua kemungkinan, ia menset gelombang berbeda atau ada frequensi yang jauh lebih kuat dari gelombangnya. Bagaimana mungkin siaran bacaan Al-Qur’an dari pemancar dapat berubah menjadi rock atau rap di pesawat penerima? Tinggalkan polemik apakah ruh Rasul datang pada momen-momen tertentu. Cukuplah kebersamaan Allah memenuhi segenap relung hati, menggemakan pesan firman suci. “Dan ketahuilah, bahwasannya di tengah kamu ada Rasulullah. Seandainya ia menurutimu dalam banyak urusan, niscaya kamu akan menjadi celaka. Akan tetapi Allah telah mencintakan kamu akan iman dan Ia menghiaskannya di hati kamu dan Ia bancikan kamu kepada kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan…”(QS. Al Hujurat:7)

Dalam makna apapun, ikut menikmati kebersamaannya bersama para sahabat –yang kepadanya ayat ini pertama kali ditujukan- menjadi kebahagiaan dan kekuatan dalam mengaruhi kehidupan.

“Siapa yang terluput melihat Al Mukhtar
(Rasulullah pilihan)
Lihatlah peninggalannya; Al Qur’an dan Sunnah yang besar”
(Syaikh Naqsyabandi)

Bagaiman mungkin hati ummat dan kadernya diujung zaman, menjadi kerontang, sementara dalam adzan selalu disebut namanya sesudah nama-Nya. Bagaiman kader merasa lemah, yatim dan terasing, padahal Ia telah nyatakan, para istrinya adalah ibu mereka? Kalau para istri ibu mereka, siapakah dia bagi mereka?

Walaupun dalam kapasitas, format dan bobot yang jauh dari generasi para sahabat, namun dalam komunitas dakwah yang memasang gelombang setara dengan pemancar masih dapat ditemukan “Hudzaifah’ dan “Umar” seperti juga “Nuaim” dan “Ammar”.



baca selengkapnya »»

11 Desember 2008

Kami berkoalisi dengan Rakyat
Dr. Mahdi Akif, Mursyid 'Aam Ikhwanul Muslimin

Sikap Ikhwan terhadap penguasa tetap tidak pernah berubah. Walaupun Ikhwan membuka pintu koalisi, tetapi jika pemerintah berbuat salah, Ikhwan akan dengan tegas menyuarakan dan melawannya. "Kami selalu bersama rakyat, itu yang terpenting!" Ujar Mursyid Aam, Mahdi Akif.


Bagaimana konsep koalisi yang diusung Ikhwan sebenarnya?

Saya tidak bisa menganjurkan rakyat Mesir yang telah mengalami segala kekacauan, dan kemudian kita melawan bentuk-bentuk kriminalitas, serta berbagai ujian, hanya atas nama Mesir. Kami akan melawan semua kejahatan yang ditujukan terhadap Ikhwan, partai-partai, dan negara, karena kami yakin, Allah akan menolong kita.

Apa yang terjadi di Amerika sungguh sesuatu yang tak terbayangkan. Resesi ekonomi saat ini, yang menghancur-leburkan, datang karena tirani, nilai dan perilaku yang baru dalam sistem kapitalis yang mereka yakini sebagai ideologi. Mereka semua paham akan hal itu, termasuk Presiden Prancis Nicholas Sarkozy dan pemimpin-pemimpin Barat lainnya. Ini masalah sistem kapitalis yang bathil, tanpa moral, tanpa nilai, dan sistem ini merusak semua prinsip hidup manusia yang legal.

Dan, apa yang terjadi di Palestina, Afghanistan, Iraq, Somalia, dan Sudan tidak bisa diterima—sesuatu di luar nalar kekuasaan dan kemampuan akal sehat. Walaupun dibandingkan dengan Turki yang sudah mulai menggunakan pesawat tempur seperti Bush untuk menyerang suku Kurdi. Dan, sebenarnya Turki adalah negara Islam dan suku Kurdi sendiri orang Islam. Mengapa kita tidak duduk bersama dan bernegosiasi? Mantan Perdana Menteri Turki, Profesor Erbakan pernah mengatakan kepada saya, bahwa dia sedang menyiapkan sebuah program dengan suku Kurdi tanpa menggunakan senjata. Semuanya itu mungkin.


Kami juga menyatakan: “Ayo rakyat Mesir, datang dan berdialoglah! Lupakan semua yang pernah kita hadapi, untuk tanah air ini dan juga masa depannya”. Saya juga menggunakan bahasa ini pada rejim yang sedang berkuasa, tapi saya tahu tampaknya mereka tidak mendengarkan.

Banyak pihak yang mengartikan tindakan seperti itu kepada penguasa hanya sesuatu yang palsu, bahwa sebenarnya anda mendukung rejim berkuasa?

Itu gila. Siapapun yang menuduh seperti itu hanya ingin menggoyahkan Ikhwan. Kami hanya berkata kepada mereka: “Ayo kita berpikir dan duduk bersama untuk negeri ini. Kami tidak mencari keuntungan pribadi.

Kami melakukan ini semua untuk Negara ini”. Ketika kami bertemu dengan partai-partai, kami mengatakan, “Negara kita, Mesir!”—kami tidak pernah menyebutkan Ikhwan. Maka, ketika kami berkumpul dalam pertemuan partai politik tahun 1990, saya mengatakana bahwa kami setuju dalam segala hal. Kecuali, kebebasan, sirkulasi kekuasaan, dan penghancuran hukum.

Tapi sekarang, setiap orang bebas mengemukakan agenda dan ideologinya. Kita hanya perlu menghormati prinsip-prinsip itu dan kemukakan program yang anda rencanakan.


Sebagai contoh, kami mengemukakan platform partai dan mengumumkannya dan juga mengirim berkasnya kepada para kaum intelektual. Saya katakan kepada mereka “Kami mengharapkan pandangan anda.” Tapi, keesokan harinya kami diserang oleh media, karena mereka salah paham. Saya bertemu dengan sebagian dari mereka dan saya mengatakan: “Bukankah saya mengirimkan kepada anda surat yang tertutup, dan meminta anda untuk menjawab kepada saya, bukannya kepada pers? Mereka minta maaf, semuanya mengatakan itu sebuah kesalahan.

Anda membicarakan Ikhwan yang memberikan manfaat kepada negara ini, dan hal ini tidak bisa diartikan sebagai sebuah perjanjian. Ramadhan yang baru lewat, anda mengundang beberapa elit politik dan tokoh terpandang di negeri ini. Semuanya setuju pada agenda bersama—bagaimana Ikhwan merealisasikan agenda itu, mengakhiri kondisi darurat, membuka kebebasan berpartai, memberikan rasa aman pada pemindahan kekuasaan, dan menerbitkan media dengan bebas?

Kami serius dalam melaksanakan hal ini. Beberapa hari ini, kami bertanya-tanya apa yang terjadi terhadap koalisi ini—pada pihak yang kontra dan pro. Kami tidak ingin mengulangi pengalaman yang sama; kami hanya ingin membangun koalisi dengan seluruh kekuatan politik dan rakyat, untuk duduk bersama dan merumuskan agenda melalui prinsip-prinsip yang jelas, dan kami bisa memperbaiki negara ini dan mengeluarkannya negara ini dari tirani dan krisis.

Apa ada jaminan bahwa Ikhwan akan menggunakan kekuatan politiknya untuk melakukan semua itu?

Prinsip dan kebijakan kami sangat jelas. Seorang professor atau doktor yang berbicara tentang Ikhwan menyimpulkan: “Saya membedakan Ikhwan dengan pendekatan ideologi yang dimiliki oleh Ikhwan itu sendiri.” Orang-orang seperti professor ini seharusnya lebih dihormati. Tapi saya heran terhadap mereka yang hanya mengulangi apa yang mereka dengar tanpa pemahaman. Apakah mereka sudah mempelajari prinsip Ikhwan dan kemudian membedakannya? Ataukah mereka mempelajari sejarah Ikhwan? Saya menyambut baik diskusi yang rasional berdasarkan opini dan kajian, bukan cuma desas-desus di media. Tapi, jika ada orang yang seperti itu ingin membuka dialog, saya selalu terbuka.

Syukur kepada Allah, Ikhwan mempunyai kemampuan untuk mendengarkan seluruh orang dan berbicara kepada mereka. Kami tak akan pernah tergesa-gesa mencapai tujuan dan prinsip kami, dan kami tak akan melangkahi sasaran yang hendak kami wujudkan. Ini bukan sebuah proyek semu, tapi ini sebuah proyek yang berdasarkan Islam dan sejarah.

Apa agenda reformasi nasional? Apakah termasuk menyetujui suksesi Presiden Hosni Mubarak?

Sejauh ini saya tidak pernah mengontak pemerintah. Ini membuat saya bingung tapi saya tidak peduli, apakah mereka juga menghubungi atau tidak. Saya bersama rakyat, saya terus berhubungan dengan rakyat, dan saya tidak peduli siapa yang menangani suksesi presiden.

Karena saya tahu, agenda dan kekuasaan yang tiranik telah membedakan kami dengan semua yang ada sekarang ini. Sekiranya kita hidup di negara yang bebas dan menerapkan demokrasi yang sesungguhnya, saya pasti akan mengatakan itu. Sekarang, semuanya sia-sia, karena isu seperti ini tidak akan pernah selesai.

Untuk opini publik, saya pikir orang percaya kepada kami dalam menolak hukum yang dibikin oleh manusia, oleh Gamal Abdul Nasser, dan yang lainnya. Ketika saya ditanya tentang Gamal (anak Hosni Mubarak), ketika pertama kali muncul, saya menegaskan: “Dia seorang warga negara yang mempunyai hak untuk mengikuti pemilihan umum. Ini adalah hal yang normal.”

Dan rakyat pun punya hak untuk memilih, tapi ketika mereka merevisi konstitusi untuk menggunakan pasal yang sudah diubah untuk kepentingannya, saya menyatakan: “Jika dia ingin menjadi presiden, dia harus meninggalkan istana ayahnya dan berbaur dengan rakyat!”. Jadi dia bisa melihat apa yang bisa dia lakukan untuk rakyat Mesir. (Sa)
baca selengkapnya »»